


Kucing adalah binatang favoritku. Aku sangat suka sekali dengan kucing, mau yang lokal, persia, anggora, jenis apa saja. Dari kecil aku sudah berteman dengan banyak kucing, karena aku punya banyak kucing. Sebenarnya sih cuma satu tapi karena betina, dia sering banget melahirkan, setahun bisa dua kali. Sekali melahirkan saja 4-5 anak kucing. Bayangkan……….. jadi berapa banyak kucing yang ada di rumahku. Sampai-sampai ada beberapa yang aku berikan ke teman dan ada yang aku pindahkan ke pasar.
Setelah aku kuliah, aku hanya memelihara 1 kucing saja dan jantan. Namanya “upik”, keturunan kucing siam, jebol, gemuk, lucu tentunya, dan terkenal galak di sekumpulan kucing-kucing. Senengnya berantem, apalagi kalau lagi rebutan cewek
Keluargaku senang ama upik. Dia ikut kami sudah 6 tahun lebih.
Banyak kenangan ama si upik. Pernah suatu saat, si upik sedang bertengkar dengan temannya yang terkenal galak juga di komplek. Entah kenapa, aku ingin memisah kedua kucing itu. Upik aku angkat, dan tiba-tiba dia menggigit jariku sekuat-kuatnya, mungkin karena sedang sebel-sebelnya ama musuhnya. Alhasil…..jariku dijahit dan sekarang nggak bisa lurus kayak dulu lagi. Meskipun demikian, aku tetap sayang ama si upik.
Tapi sayang, umurnya nggak bertahan lama. Upik sakit dan dokter salah diagnosa. Setelah mengalami operasi, selang beberapa waktu dia kembali kepada Nya ;( Aku sudah berusaha semampuku, tapi takdir berbicara lain. Luka di jariku akan menggambarkan kenangan seumur hidup bersama upik.
Sejak upik pergi, rumah rasanya sepi. Makanya, adikku meminta adanya kucing lagi. Kalau aku sih nggak mau. Upik merupakan kucing terakhir di hidupku. Aku sudah nggak mau lagi punya kucing, cukup melihat saja. Karena aku nggak mau sedih lagi, rasanya kehilangan sesuatu yang disayangi, sungguh sangat menyedihkan…..berhari-hari bisa nangis karenanya. Lagian, sekarang aku sudah dewasa, yang banyak orang bilang agak menjauh dari kucing yang dapat menyebabkan toksoplasma.
Adikku tetap memelihara kucing. Entah kenapa, setiap kami punya kucing lagi setelah upik, semuanya tidak bertahan lama. 3 kucing yang kita miliki pasti hilang dari rumah, 1 dicuri orang, 2 sisanya mati karena virus yang tidak tahu itu apa. Sempat terlintas di pikiranku, jangan-jangan si Upik sudah tidak menginjinkan kami memelihara kucing setelah dia, atau dia tidak mau tergantikan posisinya di hati kami. Akhirnya adekku berhenti memelihara kucing lagi.
Itulah pengalaman tak terlupakanku dengan kucing-kucing. Mungkin karena namaku ada unsur “pus” nya kali sehingga aku sangat mencintai hewan yang lucu itu..